Berita

Istana Himbau Aparat Waspada Dengan Modus Penyamaran Dalam Aksi Terorisme

Pemerintah menyebutkan bahwa aparat tidaklah kecolongan ketika insiden bom bunuh diri yang terjadi di Mapolrestabes Medan, Sumatera Utara. Kepala Staf Kepresidenan Jenderal TNI (Purn) Moeldoko mengatakan bahwa aksi teror tersebut justru menjadi indikasi semakin merebaknya radikalisme di tengah masyarakat.

“Ini menjadi indikasi bahwa kita semua seharusnya memiliki pemikiran yang sama bahwa memang benar terjadi di tengah-tengah kita. Oleh karena itu, pahak radikalisme ini tidaklah dapat dikesampingkan,” kata Moeldoko.

Menurutnya, terjadinya aksi bom bunuh diri ini menjadi penanda bahwa paham radikalisme telah merebak ke semua bagian masyarakat. Terlebih dalam aksi ini, eksekutornya adalah seseorang yang masih berusia muda.

Istana Himbau Aparat Waspada Dengan Modus Penyamaran Dalam Aksi Terorisme

“Janganlah terus dianulir bahwa radikalisme itu tidak ada. Ini adalah bukti nyata bahwa kita semua harus waspada karena persoalan radikalisme ini tidaklah dapat didiamkan saja,” jelasnya.

Menurutnya, pihak kepolisian telah memiliki prosedur untuk mengantisipasi hal seperti ini melalui pos yang ada beserta dengan pos jaga piket, akan tetapi pelaku memang dapat menyamar dan mempelajari kebiasaan dari target serangan.

Modus ini harusnya mulai betul-betul dikenali dengan baik oleh semua aparat sehingga tidak boleh terjadi lagi kedepannya,” jelasnya.

Pelaku bom yang menggunakan jaket ojek online ini, menurut Moeldoko, bisa aja benar-benar berprofesi sebagai seorang pengemudi ojek online atau sedang menyamar untuk melancarkan aksinya.

“Bisa saja sebagai anggota dari organisasi ojek online itu. Akan tetapi, bisa juga itu mereka hanya menggunakan jaketnya untuk menyamar. Intinya adalah mereka juga telah mempelajari semua kebiasaan dari aparat dan mereka telah mencari teknik untuk masuk ke tempat tersebut tanpa dicurigai oleh orang yang menjadi tuan rumah,” jelasnya.